Website Resmi MTS Negeri 2 Jombang

Orang yang meninggal dengan tanggungan puasa. MTsN2Jombang

Disajikan dari kitab shohih muslim

Disampaikan ust. Didik Ahmad Fauzi. M. Pd. I

Kafarat puasa hendaknya diqadha dengan puasa sejumlah hari-hari yang ditinggalkan. Jika dalam kondisi berat untuk mengqadha puasa, diperbolehkan menggantinya dengan membayar fidyah.

Sesuai dengan firman Allah SWT, “… Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan , (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya membayar fidyah…. (QS al-Baqarah [2]: 184).

Lantas, bagaimana jika seseorang masih memiliki tanggungan utang puasa kemudian wafat? Dapatkah ahli warisnya menggantikan puasa orang tersebut?

Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah membolehkan wali dari orang yang meninggal tersebut untuk menggantikan puasa. Dasarnya adalah sama seperti diperbolehkannya mewakilkan haji. Selain itu, diperbolehkannya mengganti puasa juga didasarkan dari hadis dari Aisyah RA. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan kewajiban qadha puasa maka hendaklah walinya berpuasa untuk menggantikannya.” (HR Bukhari).

Imam al-Baihaqi mendukung pendapat ini. Menurutnya, masalah menggantikan utang puasa orang yang sudah meninggal jelas nashnya. Ia juga menguatkan tidak ada perbedaan di kalangan ahli hadis. “Sehingga, wajib dilaksanakan,” ujarnya.

Komite Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi juga membolehkan dilakukannya hal tersebut. Lembaga yang saat itu diketuai Syekh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz menegaskan seseorang cukup mengganti utang puasa orang yang meninggal dengan berpuasa. Hal tersebut lebih utama dibandingkan mengganti dengan membayar fidyah.

Majelis Tarjih Muhammadiyah memandang amalan membayar utang puasa bagi orang yang sudah meninggal tidak berbenturan dengan Alquran surah an-Najm ayat 39 yang berbunyi, “Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain dari apa yang diusahakannya.”

Hadis riwayat Aisyah di atas, bagi Majelis Tarjih berfungsi untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran yang bersifat umum. Hadis lain dari Ibnu Abbas tentang menggantikan haji orang tua juga menguatkan pendapat tersebut. Namun, Majelis Tarjih menegaskan hadis diperbolehkannya mengganti puasa orang yang meninggal tidak dapat diqiyas. Misalnya, dipakai untuk dalil mengganti utang shalat orang yang sudah meninggal. Karena, tidak ada hadis yang khusus menjelaskan hal itu.

Menurut Imam Nawawi, pendapat tentang boleh mengganti puasa untuk orang yang meninggal merupakan pendapat yang benar. Ulama yang memperbolehkan berpuasa untuk orang yang meninggal juga memperbolehkan memberi makanan sebagai gantinya. Sehingga, pendapat yang tepat, kata Imam Nawawi, “Diperbolehkan memilih antara mengganti dengan puasa atau membayar fidyah.”

Pengertian wali di sini, ujar Imam Nawawi, yaitu ahli waris dan kerabatnya. Jika ada orang lain yang ingin mewakilkan maka diperbolehkan sepanjang sudah mendapat izin dari ahli waris.

Syekh Ali Jum’ah Muhammad saat menjadi Mufti Agung Mesir mengatakan jika orang tersebut meninggal saat Ramadhan maka tidak perlu membayarkan puasa dari sisa hari pada bulan Ramadhan. “Tidak ada unsur kesengajaan dalam hal itu,” katanya.

Namun, jika ia memiliki utang puasa namun belum sempat membayar kemudian meninggal, jumhur ulama dari kalangan Hanafi, Maliki, dan Hanbali berpandangan tidak perlu mengganti puasanya. Cukup dengan membayar fidyah saja. Menurut pendapat kalangan tersebut, ibadah puasa tidak dapat diwakilkan saat orang itu masih hidup maka berlaku juga saat ia meninggal. Sama seperti halnya shalat.

Imam Ahmad, Lits, Ishaq, dan Abu Ubaid berpendapat, tidak perlu mengganti puasa orang yang telah meninggal, kecuali puasa nazar. Pendapat ini dikuatkan dari beberapa hadis yang merujuk puasa yang harus dibayar dan bisa diwakilkan ialah puasa nazar.

Tinggalkan komentar