Website Resmi MTS Negeri 2 Jombang

Sejarah Singkat Kepondokan

  • 1.  Periode Klasik ( antara tahun 1885 – 1937 M )

     

           Periode ini merupakan masa-masa pembibitan dan penanaman dasar-dasar berdirinya pondok pesantren. Pendiri pertama adalah KH. Tamim Irsyad dibantu KH. Cholil sebagai mitra kerja sekailgus menjadi menantunya. Beliau menanamkan jiwa Islam yang diaktualkan dalam bentuk sikap dan perbuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Berdirinya Pondok Pesantren Darul Ulum bermula dari kedatangan KH. Tamim Irsyad yang memiliki Hikmah yang besar berasal dari Bangkalan Madura ke desa Rejoso di Jombang,  tempat secara naluriah Keagamaan KH. Tamim yang amat representatif sebagai lahan perjuangan menegakkan Islam.

     

           Alasan lain dipilihnya desa Rejoso dibuat Pondok Pesantren, karena merupakan wadah yang dihuni masyarakat hitam dan jauh dari prakteik-praktik sehat menurut norma ajaran Islam. Mereka sering berbuat jahat dan onar, tidak memperhatikan tata krama pergaulan hidup. Untuk itulah diperlukan modal oleh dua Kyai tersebut. Dan modal itu telah dimiliki oleh KH. Tamim Irsyad yang ahli dalam syariat Islam disamping memiliki ilmu kanuragan tinggi. Demikian pula KH. Cholil merupakan pengamal ilmu tasawwuf disamping memiliki bekal ilmu syariat Islam pada umumnya. Beliau waktu itu dipercaya oleh gurunya untuk mewariskan ilmu tharekat qodiriyah wannaqsabandiyah-Nya kepada yang berhak menerimanya, dengan kata lain beliau berhak sebagai Al-Mursyid (guru petunjuk dalam dunia tharekat).

     

           Pada periode ini sistem pengajaran ilmu pengetahuan dilaksanakan dengan sistem ceramah dan praktik langsung melalui saluran sarana yang ada pada masyarakat. KH. Tamim Irsyad memberikan pengajian ilmu Al-Qur’an dan ilmu Fiqih atau hukum syariat Islam, sedangkan KH. Cholil memberikan pengajian ilmu tasawuf dalam bentuk pengamalan tharekat qodiriyah wan naqsabandiyah disamping tuntunan ilmu tauhid. Oleh KH. Tamim diberikan syariatnya, dan oleh KH. Cholil dilatih mencintai yang punya syariat Islam.

     

           Sekitar akhir abad XIX (sembilan belas), ketika pondok pesantren ini berkembang cukup meyakinkan, didatangkanlah Kyai Syafawi, adik kandung Kyai Cholil dari Demak, Jawa Tengah untuk membantu kelancaran pengajian, terutama bidang ilmu Tafsir dan Ilmu Alat. Namun usia KH. Syafawi tidak panjang. Pada tahun 1904 beliau meninggal dunia. Dan tahun 1930 KH. Tamim Irsyad juga meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihirojiuun. Sebelum wafat, beliau telah mengkader putra keduanya, KH. Romli Tamim, sebagai figur Pimpinan Darul Ulum periode kedua. Sepeninggal KH. Syafawi dan KH. Tamim, KH. Cholil tinggal sendiri mengemban amanat kelangsungan hidup pondok pesantren. Dalam kesendirinnya, KH. Cholil mengalami Jadzab (menurut istilah Pondok Pesantren) atau terserang depresi psychis (menurut istilah Psykologi).

     

           Setelah KH. Cholil dapat memecahkan masalahnya, barulah beliau bangkit mengemban amanahnya. Beliau memegang semua bidang studi, yang dulu dipegang berdua. Pada akhirnya tugas-tugas tersebut oleh KH. Cholil didelegasikan kepada Generasi Penerusnya yaitu setelah datangnya KH. Romly Tamim putra kedua KH. Tamim Irsyad dari belajar di Pondok Pesantren Tebuireng tahun 1927 M. KH. Romly Tamim oleh gurunya didampingi oleh santrinya, antara lain KH. Akhmad Jufri ( Karangkates Kediri ) dan KH. Zaid Buntet (Cirebon). Tongkat kepemimpinan akhirnya dipegang oleh tokoh-tokoh baru Pondok Pesantren peninggalan KH. Cholil yang wafat tahun 1937 M.

           Diantaranya adalah KH. Romly Tamim putra KH. Tamim Irsyad dan KH.Dahlan Cholil putra KH. Cholil. Dua tokoh inilah yang memimpin perkembangan Pondok Pesantren Darul Ulum pada periode pertengahan.

     

    2.  Periode Pertengahan (antara tahun 1937 M sampai 1958 M )

     

           Pada masa bergolaknya perjuangan untuk merdeka, generasi pondok pesantren Darul Ulum juga turut serta berjuang dalam bentuk gerakan yang lain. Sepeninggal tokoh-tokoh tua, muncul KH. Romly Tamim dan KH. Dahlan Cholil sebagai tokoh muda yang baru menyelesaikan studinya di PP Tebuireng Jombang yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari studi di Mekkah, Sudi Arabia. KH. Dahlan Cholil pulang ke Rejoso tahun 1932 M, dan disusul oleh adiknya KH. Ma’soem Cholil tahun 1937 M, bersama-sama berjuang melalui sarana pendidikan yang dibinanya. Pada periode ini, pondok pesantren ini diberi nama DARUL ‘ULUM (Rumah Ilmu) oleh beliau pada tahun 1933 M.

     

           Pendidikan yang ditanamkan, waktu pagi dan siang siswa diajak langsung oleh beliau bertanam, berdagang menanti rezeki. Jika malam mereka bersujud khusu’ menanti hidayah Allah SWT. Pendidikan semacam ini hasinya cukup mengagumkan, dan dapat dirasakan oleh Pondok Pesantren Darul ‘Ulum.

     

           Pengkajian ilmu pengetahuan pada periode ini semakin mekar pada bidang umum, bukan lagi berliku-liku didaerah pengetahuan agama saja. Disamping itu pembagian tugas antara tokoh-tokoh yang ada semakin jelas. KH. Romly Tamim memegang kebijakan umum serta ilmu tasawuf dan tharekat qodiriyah wan naqsabandiyah. KH. Dahlan Cholil memegang kebijakan khusussiah (manajemen) dan pengajian syariat plus Al-Qur’an sedang KH. Ma’soem Cholil mengemban organisasi sekolah dan manajemennya. Sementara itu, Kyai Umar Tamim adik Kyai Romly Tamim sebagai pembantu aktif di bidang ketharekatan. Semua tugas tersebut masing-masing dibantu oleh santri-santri senior, seperti KH. Utsman Al Isyaqi yang berasal dari Surabaya dalam praktikum qodiriyah wan naqsabandiyah.

     

           Ciri khas alumni pada periode ini seakan dapat dijabarkan dalam dua bentuk :

     

    2.1. Bentuk salikin atau ahli praktikum tharekat qodiriyah an naqsabandiyah. Mereka lulusan amalan tharekat dibawah asuhan KH. Romly Tamim. Sebagian mereka telah menjadi Al-Mursyid sejak zaman KH. Romly Tamim.

     

    2.2. Bentuk huffadz atau penghafal Al-Qur’an. Mereka adalah lulusan madrasah huffadz Al-Qur’an yang mendapat asuhan dari KH. Dahlan Cholil.

     

           Dalam masa perjuangan fisik membela negara, maka peran Pondok Pesantren Darul Ulum juga tidak sedikit. Para pejuang dan santri Pondok Pesantren Darul Ulum banyak yang gugur ketika bertempur dengan tentara Belanda. Bahkan pondok pesantren ini dijadikan markas tentara Hizbullah pada kelas II waktu melawan tentara Belanda.

     

           Tahun 1933 M didirikan sekolah klasikal yang pertama di Darul ‘Ulum yaitu Madrasah Ibtidaiyah Darul ‘Ulum. Sebagai tindak lanjut, sekolah tersebut tahun 1949 M didirikan arena belajar untuk para calon pendidik dan da’wah, bernama Madrasah Muallimin (untuk siswa putra) dan tahun 1954 M berdiri sekolah untuk kaum putri.

     

           Periode ini ditutup pada tahun 1958 M, ditandai dengan kematian dua tokohnya, yaitu KH. Dahlan Cholil pada bulan Sya’ban, disusul oleh KH. Romly Tamim pada bulan Ramadhan. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Amin.

     

    3.  Periode Baru fase Pertama ( antara tahun 1958 – 1985 M )

     

           Sepeninggal kedua tokoh tersebut, pondok pesantren Darul ‘Ulum mengalami  kesenjangan kepemimpinan, terutama dalam bidang tharekat dan pengajian ilmu Al-Qur’an dengan segala ilmu bantunya. Hal ini dikarenakan kedua tokoh tersebut merupakan tokoh besar serta piawai dalam bidangnya.

     

           Pada masa transisi antara tahun 1958 – 1961 M, muncul KH. Ma’soen Cholil yang selama ini berdomisili di Jagalan Jombang. KH. Ma’soem Cholil meninggal tahun 1961 M, dan belum sempat menikmati hasil kepemimpinannya. Pada masa itu, lahir tokoh baru yaitu Kyai Haji Bisri Cholil dan KH. Musta’in Romly sebagai pemimpin utama pada ketokohan periode baru fase pertama ini.

     

           Pada masa ketokohan KH. Musta’in Romly dan KH. Bisri Cholil, antara tahun 1962 M sampai 1985 M, Pondok Pesantren Darul ‘Ulum banyak mengalami pembaharuan dalam struktur organisasi, bidang bentuk pendidikan maupun dalam sarana fisik.

     

    Perubahan tersebut antara lain :

     

    3.1. Bidang Struktur Organisasi.

     

                       Mulai tahun 1962 M, struktur organisasinya berubah. Distribusi tugasnya merupakan kemajuan bila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Struktur tersebut dijabarkan dalam bentuk dewan.

     

     

           Dewan Kyai                :  Merupakan badan tertinggi.

      Beranggotakan para sesepuh Pondok Pesantren. Badan ini dipimpin oleh KH. Bisri Cholil dan KH. Musta’in Romly. Dewan ini merupakan dewan penentu kebijakan prinsipil di Darul ‘Ulum.

     

      Dewan Guru              : Merupakan badan pelaksana kebijakan Dewan Kyai dalam   bidang kontinuitas pendidikan. Badan ini beranggotakan guru-guru yang dipimpin oleh KH. Musta’in Romly.

     

     

    Dewan Harian                 :  Merupakan dewan pelaksana harian Dewan Kyai dalam bidang Administrai Manajemen dan kegiatan sosial. Badan ini beranggotakan santri-santri, guru-guru yunior dipimpin oleh Kya Achmad Badawi Cholil, tokoh motor pembaharuan manajemen organisasi periode ini.

     

    Dewan Keuangan            : Pada tahun 1968 M, untuk lebih menertibkan administrasi keuangan, dibentuk Dewan Keuangan yang ditangani oleh Kyai Muh. As’ad Umar.

     

         3.2.  Bidang Pendidikan

     

                            Pendidikan merupakan misi utama Pondok Pesantren Darul Ulum yang setiap saat senantiasa berupaya meningkatkan kualitas bidang ini. Hampir semua materi dimasukkan dalam program yang ada, yang berbeda dengan sebelumnya yang terbatas bidang agama dan ditambah materi umum. Ini dilakukan untuk menyediakan fasilitas yang sempurna bagi siswa-siswa pondok pesantren. Hal ini merupakan kelanjutan Pondok Pesantren atas tantangan masyarakat lingkungannya.

                            Kedua materi itu, oleh pondok pesantren Darul Ulum disejajarkan, diselaraskan dan diberi ruang gerak yang sama dalam wadah yang sama.

                            Tahun 1965 M dibuka Universitas Darul Ulum sebagai kelanjutan wadah pendidikan, yang memiliki Fakultas Alim Ulama, Fakultas Hukum, Fakultas Sosial Politik dan Fakultas Pertanian.

                  Tahun 1989 M, Universitas Darul Ulum memiliki lima Fakultas, antara lain :

                            Fakultas Hukum

                            Fakultas Sosial Politik

                            Fakultas Ushluddin (sebagai ganti Fak. Alim Ulama)

                            Fakultas Ilmu Pendidikan

                            Fakultas Ekonomi

     

                            Tahun 1967 M, sekolah dan madrasah di Darul Ulum dibagi dalam dua program studi, yaitu yang berada dalam naungan Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Namun demikian, setiap program studi yang ada tetap dalam naungan warna Kepondokpesantrenan Darul Ulum sebagaimana semula, yang akurat dan tradisional. Selanjutnya tahun 1968 M, sekolah yang berada dalam naungan Departemen Agama dinegerikan melalui Surat Keputusan Menteri Agama No : 67 tahun 1968.

     

         3.3.  Bidang Sarana Fisik

     

                            Sarana fisik mutlak dibutuhkan bagi terwujudnya mekanisme pendidikan. Penyediaan sarana fisik di Pondok Pesantren Darul Ulum terus bertambah, antara lain :

    1.      Tahun 1954 dibuka Madrasah Mu’allimat Atas, bentuk sekolah setingkat SMA khusus bagi siswa putri.

    2.      Tahun 1960, bersama alumni pondok pesantren Darul Ulum yang menyebar di perguruan tinggi di Surabaya, Malang, Yogjakarta membentuk wadah HESDU (Himpunan Eks Santri Darul Ulum) yang melaksanakan Konggres I di Malang akhirnya berubah nama menjadi IKAPPDAR (Ikatan Keluarga Pondok Pesantren Darul Ulum)

    3.      Tahun 1965 memiliki tanah untuk lokasi berdirinya Universitas Darul Ulum

    4.      Antara tahun 1959 – 1982, disempurnakan fasilitas belajar, sarana ibadah maupun asrama tempat tinggal

     

    Sementara dalam kepemimpinan terjadi perubahan setelah wafatnya KH. Bisri yang digantikan oleh KH. Sofyan Cholil sebagai partner KH. Musta’in Romly. Dan pada tahun 1978, setelah wafatnya KH. Sofyan Cholil kedudukannya diganti oleh KH. Muh. As’ad Umar.

     

     

     

     

    4.  Periode Baru Fase Ke Dua (Antara tahun 1985 – 1993 )

     

         Pada periode ini terjadi perubahan perkembangan kelembagaan.

     

         4.1 Perkembangan Kelembagaan

     

                Pembagian tugas kelembagaan lebih rinci disesuaikan dengan Profesi perseorangan yang duduk dipersonalia lembaga. Ada Yayasan Darul Ulum, Yayasan Universitas Darul Ulum dan Yayasan Tharekat Qodiriyah Wan Naqsabandiyah yang berpusat di Darul Ulum. Semua yayasan / lembaga terikat oleh nilai dan norma misi kelembagaan Darul Ulum yang termuat dalam garis besar Khittah Trisula, yaitu suatu rangkuman nilai dan norma menjadi misi pendidikan Darul Ulum. Pada periode ini lembaga pendidikan Darul Ulum lebih meningkatkan profesionalisme dalam kepengurusan kelembagaan yang dimiliki Darul Ulum.

     

         4.2  Bidang Pendidikan

     

                Lembaga pendidikan kejuruan pada periode ini mendapat penekanan sebagai kelengkapan lembaga-lembaga yang sudah berkembang, dengan mendirikan :

    1.      Tahun 1988 dibuka program komputer

    2.      Tahun 1989 dibuka SMEA Darul Ulum

    3.      Tahun 1991 dibuka Akademi Perawatan Darul Ulum

    4.      Tahun 1992 dibuka Sekolah Tehnik Menengah Darul Ulum

     

         4.3  Bidang Fisik Bangunan

     

                Pembangunan fisik sarana kelayakan penyelenggaraan pendidikan dibangun sebagai sarana fisik demi menunjang kemajuan pendidikan. Tahun 1986 dibangun gedung perkuliahan Fakultas Hukum dan Tehnik Universitas Darul Ulum. Tahun 1987 dibangun gedung Fak. Tarbiyah di Jl. Rejoso. Tahun 1990 dibangun gedung pertemuan UNDAR. Sementara di Pondok Pesantren Darul Ulum, tahun 1986 didirikan SMA Darul Ulum bersama asrama Ibnu Siena. Tahun 1987 dibangun SMA Putri bersama asrama Raden Rahmat. Tahun 1989 didirikan gedung MAN Rejoso dan MTsN bersamaan dengan pembangunan asrama Bani Tamim dan Al-Ghozali.

     

         4.4  Bidang Kepemimpinan

     

                Kepemimpinan di Pondok Pesantren Darul Ulum menggunakan sistem keluarga, artinya unsur pimpinannya terdiri atas unsur keluarga pendiri pondok Darul Ulum yaitu KH. Tamim Irsyad yang memiliki tiga putra :

    1.      Nyai Hj. Fatimah (Istri KH. Cholil)

    2.      KH. Romly Tamim

    3.      KH. Umar Tamim1.  Periode Klasik ( antara tahun 1885 – 1937 M )

     

           Periode ini merupakan masa-masa pembibitan dan penanaman dasar-dasar berdirinya pondok pesantren. Pendiri pertama adalah KH. Tamim Irsyad dibantu KH. Cholil sebagai mitra kerja sekailgus menjadi menantunya. Beliau menanamkan jiwa Islam yang diaktualkan dalam bentuk sikap dan perbuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Berdirinya Pondok Pesantren Darul Ulum bermula dari kedatangan KH. Tamim Irsyad yang memiliki Hikmah yang besar berasal dari Bangkalan Madura ke desa Rejoso di Jombang,  tempat secara naluriah Keagamaan KH. Tamim yang amat representatif sebagai lahan perjuangan menegakkan Islam.

     

           Alasan lain dipilihnya desa Rejoso dibuat Pondok Pesantren, karena merupakan wadah yang dihuni masyarakat hitam dan jauh dari prakteik-praktik sehat menurut norma ajaran Islam. Mereka sering berbuat jahat dan onar, tidak memperhatikan tata krama pergaulan hidup. Untuk itulah diperlukan modal oleh dua Kyai tersebut. Dan modal itu telah dimiliki oleh KH. Tamim Irsyad yang ahli dalam syariat Islam disamping memiliki ilmu kanuragan tinggi. Demikian pula KH. Cholil merupakan pengamal ilmu tasawwuf disamping memiliki bekal ilmu syariat Islam pada umumnya. Beliau waktu itu dipercaya oleh gurunya untuk mewariskan ilmu tharekat qodiriyah wannaqsabandiyah-Nya kepada yang berhak menerimanya, dengan kata lain beliau berhak sebagai Al-Mursyid (guru petunjuk dalam dunia tharekat).

     

           Pada periode ini sistem pengajaran ilmu pengetahuan dilaksanakan dengan sistem ceramah dan praktik langsung melalui saluran sarana yang ada pada masyarakat. KH. Tamim Irsyad memberikan pengajian ilmu Al-Qur’an dan ilmu Fiqih atau hukum syariat Islam, sedangkan KH. Cholil memberikan pengajian ilmu tasawuf dalam bentuk pengamalan tharekat qodiriyah wan naqsabandiyah disamping tuntunan ilmu tauhid. Oleh KH. Tamim diberikan syariatnya, dan oleh KH. Cholil dilatih mencintai yang punya syariat Islam.

     

           Sekitar akhir abad XIX (sembilan belas), ketika pondok pesantren ini berkembang cukup meyakinkan, didatangkanlah Kyai Syafawi, adik kandung Kyai Cholil dari Demak, Jawa Tengah untuk membantu kelancaran pengajian, terutama bidang ilmu Tafsir dan Ilmu Alat. Namun usia KH. Syafawi tidak panjang. Pada tahun 1904 beliau meninggal dunia. Dan tahun 1930 KH. Tamim Irsyad juga meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihirojiuun. Sebelum wafat, beliau telah mengkader putra keduanya, KH. Romli Tamim, sebagai figur Pimpinan Darul Ulum periode kedua. Sepeninggal KH. Syafawi dan KH. Tamim, KH. Cholil tinggal sendiri mengemban amanat kelangsungan hidup pondok pesantren. Dalam kesendirinnya, KH. Cholil mengalami Jadzab (menurut istilah Pondok Pesantren) atau terserang depresi psychis (menurut istilah Psykologi).

     

           Setelah KH. Cholil dapat memecahkan masalahnya, barulah beliau bangkit mengemban amanahnya. Beliau memegang semua bidang studi, yang dulu dipegang berdua. Pada akhirnya tugas-tugas tersebut oleh KH. Cholil didelegasikan kepada Generasi Penerusnya yaitu setelah datangnya KH. Romly Tamim putra kedua KH. Tamim Irsyad dari belajar di Pondok Pesantren Tebuireng tahun 1927 M. KH. Romly Tamim oleh gurunya didampingi oleh santrinya, antara lain KH. Akhmad Jufri ( Karangkates Kediri ) dan KH. Zaid Buntet (Cirebon). Tongkat kepemimpinan akhirnya dipegang oleh tokoh-tokoh baru Pondok Pesantren peninggalan KH. Cholil yang wafat tahun 1937 M.

           Diantaranya adalah KH. Romly Tamim putra KH. Tamim Irsyad dan KH.Dahlan Cholil putra KH. Cholil. Dua tokoh inilah yang memimpin perkembangan Pondok Pesantren Darul Ulum pada periode pertengahan.

     

    2.  Periode Pertengahan (antara tahun 1937 M sampai 1958 M )

     

           Pada masa bergolaknya perjuangan untuk merdeka, generasi pondok pesantren Darul Ulum juga turut serta berjuang dalam bentuk gerakan yang lain. Sepeninggal tokoh-tokoh tua, muncul KH. Romly Tamim dan KH. Dahlan Cholil sebagai tokoh muda yang baru menyelesaikan studinya di PP Tebuireng Jombang yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari studi di Mekkah, Sudi Arabia. KH. Dahlan Cholil pulang ke Rejoso tahun 1932 M, dan disusul oleh adiknya KH. Ma’soem Cholil tahun 1937 M, bersama-sama berjuang melalui sarana pendidikan yang dibinanya. Pada periode ini, pondok pesantren ini diberi nama DARUL ‘ULUM (Rumah Ilmu) oleh beliau pada tahun 1933 M.

     

           Pendidikan yang ditanamkan, waktu pagi dan siang siswa diajak langsung oleh beliau bertanam, berdagang menanti rezeki. Jika malam mereka bersujud khusu’ menanti hidayah Allah SWT. Pendidikan semacam ini hasinya cukup mengagumkan, dan dapat dirasakan oleh Pondok Pesantren Darul ‘Ulum.

     

           Pengkajian ilmu pengetahuan pada periode ini semakin mekar pada bidang umum, bukan lagi berliku-liku didaerah pengetahuan agama saja. Disamping itu pembagian tugas antara tokoh-tokoh yang ada semakin jelas. KH. Romly Tamim memegang kebijakan umum serta ilmu tasawuf dan tharekat qodiriyah wan naqsabandiyah. KH. Dahlan Cholil memegang kebijakan khusussiah (manajemen) dan pengajian syariat plus Al-Qur’an sedang KH. Ma’soem Cholil mengemban organisasi sekolah dan manajemennya. Sementara itu, Kyai Umar Tamim adik Kyai Romly Tamim sebagai pembantu aktif di bidang ketharekatan. Semua tugas tersebut masing-masing dibantu oleh santri-santri senior, seperti KH. Utsman Al Isyaqi yang berasal dari Surabaya dalam praktikum qodiriyah wan naqsabandiyah.

     

           Ciri khas alumni pada periode ini seakan dapat dijabarkan dalam dua bentuk :

     

    2.1. Bentuk salikin atau ahli praktikum tharekat qodiriyah an naqsabandiyah. Mereka lulusan amalan tharekat dibawah asuhan KH. Romly Tamim. Sebagian mereka telah menjadi Al-Mursyid sejak zaman KH. Romly Tamim.

     

    2.2. Bentuk huffadz atau penghafal Al-Qur’an. Mereka adalah lulusan madrasah huffadz Al-Qur’an yang mendapat asuhan dari KH. Dahlan Cholil.

     

           Dalam masa perjuangan fisik membela negara, maka peran Pondok Pesantren Darul Ulum juga tidak sedikit. Para pejuang dan santri Pondok Pesantren Darul Ulum banyak yang gugur ketika bertempur dengan tentara Belanda. Bahkan pondok pesantren ini dijadikan markas tentara Hizbullah pada kelas II waktu melawan tentara Belanda.

     

           Tahun 1933 M didirikan sekolah klasikal yang pertama di Darul ‘Ulum yaitu Madrasah Ibtidaiyah Darul ‘Ulum. Sebagai tindak lanjut, sekolah tersebut tahun 1949 M didirikan arena belajar untuk para calon pendidik dan da’wah, bernama Madrasah Muallimin (untuk siswa putra) dan tahun 1954 M berdiri sekolah untuk kaum putri.

     

           Periode ini ditutup pada tahun 1958 M, ditandai dengan kematian dua tokohnya, yaitu KH. Dahlan Cholil pada bulan Sya’ban, disusul oleh KH. Romly Tamim pada bulan Ramadhan. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Amin.

     

    3.  Periode Baru fase Pertama ( antara tahun 1958 – 1985 M )

     

           Sepeninggal kedua tokoh tersebut, pondok pesantren Darul ‘Ulum mengalami  kesenjangan kepemimpinan, terutama dalam bidang tharekat dan pengajian ilmu Al-Qur’an dengan segala ilmu bantunya. Hal ini dikarenakan kedua tokoh tersebut merupakan tokoh besar serta piawai dalam bidangnya.

     

           Pada masa transisi antara tahun 1958 – 1961 M, muncul KH. Ma’soen Cholil yang selama ini berdomisili di Jagalan Jombang. KH. Ma’soem Cholil meninggal tahun 1961 M, dan belum sempat menikmati hasil kepemimpinannya. Pada masa itu, lahir tokoh baru yaitu Kyai Haji Bisri Cholil dan KH. Musta’in Romly sebagai pemimpin utama pada ketokohan periode baru fase pertama ini.

     

           Pada masa ketokohan KH. Musta’in Romly dan KH. Bisri Cholil, antara tahun 1962 M sampai 1985 M, Pondok Pesantren Darul ‘Ulum banyak mengalami pembaharuan dalam struktur organisasi, bidang bentuk pendidikan maupun dalam sarana fisik.

     

    Perubahan tersebut antara lain :

     

    3.1. Bidang Struktur Organisasi.

     

                       Mulai tahun 1962 M, struktur organisasinya berubah. Distribusi tugasnya merupakan kemajuan bila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Struktur tersebut dijabarkan dalam bentuk dewan.

     

     

           Dewan Kyai                :  Merupakan badan tertinggi.

      Beranggotakan para sesepuh Pondok Pesantren. Badan ini dipimpin oleh KH. Bisri Cholil dan KH. Musta’in Romly. Dewan ini merupakan dewan penentu kebijakan prinsipil di Darul ‘Ulum.

     

      Dewan Guru              : Merupakan badan pelaksana kebijakan Dewan Kyai dalam   bidang kontinuitas pendidikan. Badan ini beranggotakan guru-guru yang dipimpin oleh KH. Musta’in Romly.

     

     

    Dewan Harian                 :  Merupakan dewan pelaksana harian Dewan Kyai dalam bidang Administrai Manajemen dan kegiatan sosial. Badan ini beranggotakan santri-santri, guru-guru yunior dipimpin oleh Kya Achmad Badawi Cholil, tokoh motor pembaharuan manajemen organisasi periode ini.

     

    Dewan Keuangan            : Pada tahun 1968 M, untuk lebih menertibkan administrasi keuangan, dibentuk Dewan Keuangan yang ditangani oleh Kyai Muh. As’ad Umar.

     

         3.2.  Bidang Pendidikan

     

                            Pendidikan merupakan misi utama Pondok Pesantren Darul Ulum yang setiap saat senantiasa berupaya meningkatkan kualitas bidang ini. Hampir semua materi dimasukkan dalam program yang ada, yang berbeda dengan sebelumnya yang terbatas bidang agama dan ditambah materi umum. Ini dilakukan untuk menyediakan fasilitas yang sempurna bagi siswa-siswa pondok pesantren. Hal ini merupakan kelanjutan Pondok Pesantren atas tantangan masyarakat lingkungannya.

                            Kedua materi itu, oleh pondok pesantren Darul Ulum disejajarkan, diselaraskan dan diberi ruang gerak yang sama dalam wadah yang sama.

                            Tahun 1965 M dibuka Universitas Darul Ulum sebagai kelanjutan wadah pendidikan, yang memiliki Fakultas Alim Ulama, Fakultas Hukum, Fakultas Sosial Politik dan Fakultas Pertanian.

                  Tahun 1989 M, Universitas Darul Ulum memiliki lima Fakultas, antara lain :

                            Fakultas Hukum

                            Fakultas Sosial Politik

                            Fakultas Ushluddin (sebagai ganti Fak. Alim Ulama)

                            Fakultas Ilmu Pendidikan

                            Fakultas Ekonomi

     

                            Tahun 1967 M, sekolah dan madrasah di Darul Ulum dibagi dalam dua program studi, yaitu yang berada dalam naungan Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Namun demikian, setiap program studi yang ada tetap dalam naungan warna Kepondokpesantrenan Darul Ulum sebagaimana semula, yang akurat dan tradisional. Selanjutnya tahun 1968 M, sekolah yang berada dalam naungan Departemen Agama dinegerikan melalui Surat Keputusan Menteri Agama No : 67 tahun 1968.

     

         3.3.  Bidang Sarana Fisik

     

                            Sarana fisik mutlak dibutuhkan bagi terwujudnya mekanisme pendidikan. Penyediaan sarana fisik di Pondok Pesantren Darul Ulum terus bertambah, antara lain :

    1.      Tahun 1954 dibuka Madrasah Mu’allimat Atas, bentuk sekolah setingkat SMA khusus bagi siswa putri.

    2.      Tahun 1960, bersama alumni pondok pesantren Darul Ulum yang menyebar di perguruan tinggi di Surabaya, Malang, Yogjakarta membentuk wadah HESDU (Himpunan Eks Santri Darul Ulum) yang melaksanakan Konggres I di Malang akhirnya berubah nama menjadi IKAPPDAR (Ikatan Keluarga Pondok Pesantren Darul Ulum)

    3.      Tahun 1965 memiliki tanah untuk lokasi berdirinya Universitas Darul Ulum

    4.      Antara tahun 1959 – 1982, disempurnakan fasilitas belajar, sarana ibadah maupun asrama tempat tinggal

     

    Sementara dalam kepemimpinan terjadi perubahan setelah wafatnya KH. Bisri yang digantikan oleh KH. Sofyan Cholil sebagai partner KH. Musta’in Romly. Dan pada tahun 1978, setelah wafatnya KH. Sofyan Cholil kedudukannya diganti oleh KH. Muh. As’ad Umar.

     

     

     

     

    4.  Periode Baru Fase Ke Dua (Antara tahun 1985 – 1993 )

     

         Pada periode ini terjadi perubahan perkembangan kelembagaan.

     

         4.1 Perkembangan Kelembagaan

     

                Pembagian tugas kelembagaan lebih rinci disesuaikan dengan Profesi perseorangan yang duduk dipersonalia lembaga. Ada Yayasan Darul Ulum, Yayasan Universitas Darul Ulum dan Yayasan Tharekat Qodiriyah Wan Naqsabandiyah yang berpusat di Darul Ulum. Semua yayasan / lembaga terikat oleh nilai dan norma misi kelembagaan Darul Ulum yang termuat dalam garis besar Khittah Trisula, yaitu suatu rangkuman nilai dan norma menjadi misi pendidikan Darul Ulum. Pada periode ini lembaga pendidikan Darul Ulum lebih meningkatkan profesionalisme dalam kepengurusan kelembagaan yang dimiliki Darul Ulum.

     

         4.2  Bidang Pendidikan

     

                Lembaga pendidikan kejuruan pada periode ini mendapat penekanan sebagai kelengkapan lembaga-lembaga yang sudah berkembang, dengan mendirikan :

    1.      Tahun 1988 dibuka program komputer

    2.      Tahun 1989 dibuka SMEA Darul Ulum

    3.      Tahun 1991 dibuka Akademi Perawatan Darul Ulum

    4.      Tahun 1992 dibuka Sekolah Tehnik Menengah Darul Ulum

     

         4.3  Bidang Fisik Bangunan

     

                Pembangunan fisik sarana kelayakan penyelenggaraan pendidikan dibangun sebagai sarana fisik demi menunjang kemajuan pendidikan. Tahun 1986 dibangun gedung perkuliahan Fakultas Hukum dan Tehnik Universitas Darul Ulum. Tahun 1987 dibangun gedung Fak. Tarbiyah di Jl. Rejoso. Tahun 1990 dibangun gedung pertemuan UNDAR. Sementara di Pondok Pesantren Darul Ulum, tahun 1986 didirikan SMA Darul Ulum bersama asrama Ibnu Siena. Tahun 1987 dibangun SMA Putri bersama asrama Raden Rahmat. Tahun 1989 didirikan gedung MAN Rejoso dan MTsN bersamaan dengan pembangunan asrama Bani Tamim dan Al-Ghozali.

     

         4.4  Bidang Kepemimpinan

     

                Kepemimpinan di Pondok Pesantren Darul Ulum menggunakan sistem keluarga, artinya unsur pimpinannya terdiri atas unsur keluarga pendiri pondok Darul Ulum yaitu KH. Tamim Irsyad yang memiliki tiga putra :

    1.      Nyai Hj. Fatimah (Istri KH. Cholil)

    2.      KH. Romly Tamim

    3.      KH. Umar Tamim